Dear Stalker

Oke.

Membaca judul di atas, biasanya orang akan langsung membuat asumsi mengenai sebuah roman picisan klise mengenai seorang wanita yang jatuh cinta pada stalker yang membuntuti dia.

Jangan terburu-buru dahulu kawan. Mampirlah sejenak, dengarkan kisahku.

Begini. Saya tidak percaya sama apa yang sering disebut orang ‘Love at First Sight‘. Saya percaya, bahwa cinta adalah sesuatu yang datang, tumbuh dan berkembang secara eksponensial dengan mengalirnya waktu. Tidak bisa kita mendadak cinta kepada seseorang kalau baru sehari kenal, apalagi kalau hanya pernah melihat wajahnya.

Tapi saya percaya, bahwa manusia bisa ‘tertarik’ kepada seseorang hanya melalui sekilas pandangan mata.

Rasa ketertarikan ini, tentu saja, sifatnya hanya sekadar sampul plastik alias fisik. Karena itulah ketertarikan ini tidak pantas diartikan sebagai cinta. Lebih tepatnya nge-fans kali ya?

Ngapain juga saya tiba-tiba bahas hal seperti ini? Beginilah ceritanya.

Siang ini, seperti yang bisa anda lihat di post saya sebelumnya, saya pergi ke GJUI bersama teman-teman. Di sana, saya bertemu oleh seorang makhluk laki-laki yang sedap dipandang mata. Bagaimana tidak?

Tadinya saya hanya melirik sekilas, kemudian asik membicarakan kelebihan si non-suspecting-victim ini dengan kawan-kawan. Tapi kemudian wajah yang tergolong ‘cantik’ itu tidak kunjung hilang dari kepala saya, dan jadilah kemanapun saya melangkah, ekor mata saya selalu jelalatan menyapu keramaian, mencari sesosok tinggi berbalut jaket kulit biru tua dan jeans panjang warna hitam.

Saya dan teman-teman sempat terpencar. Saya berdua, dan tiga orang lain pergi beli minum. Di tengah keramaian lokasi untuk stand-stand penjual makanan dan minuman itu, mata saya akhirnya menemukan apa yang sedari tadi dicari-cari oleh alam bawah sadar saya.

Sang pemuda tampan, sedang diminta berfoto bersama segerombolan kaum hawa yang nyengir-nyengir kegirangan sambil membentuk lambang peace dengan jari telunjuk dan jari tengah (pose paling populer sejak zaman kuda gigit besi, betul? :] ).

Eh, tunggu dulu… foto bersama??

Oh la la, tentu saja saya tidak mau kehilangan kesempatan untuk ikut diabadikan dengan kamera bersama sesosok bishounen itu. Yang saya bingung adalah, dia itu bukan orang yang sedang ber-cosplay!?

Normal kalau orang-orang minta foto bersama para cosplayer. Saya dan teman-teman juga dari tadi jeprat-jepret sana-sini bersama mereka. Tapi pemuda di depan saya ini kan hanya pengunjung biasa seperti saya?

Fine, he’s got a nice sense of fashion. Kaus hitam yang pas di badan, jaket kulit biru donker, a pair of nice-fitting dark jeans, kacamata full-frame berpotongan persegi panjang dengan bingkai hitam yang bold, rambut hitam yang modelnya kurang-lebih seperti Tamaki Suoh, dan sepatunya juga gaya. Di antara putra adam lain yang datang ke GJUI hari itu, dengan mudah ia menduduki posisi nomor 1 sebagai cowok yang paling ‘enak dilihat’.

Apalagi dia tergolong tinggi semampai (saya yakin tingginya minimal mencapai 180cm), kulitnya putih, jerawat pun tidak ada. Walaupun dibilang ‘cantik’, garis rahangnya tegas. Matanya bersahabat dan hidungnya tinggi (salah satu aspek yang paling menunjang, menurut saya). Susah (banget) ‘kan mencari cowok seperti itu?

Maka saya tidak mau kalah. Saya segera menebalkan muka, memutus urat malu, dan berjalan maju dengan gagah berani untuk minta difoto bersama juga. Yang dia balas dengan anggukan kepala kecil beserta senyum-tiga-jari.

Maka giranglah saya, dapat berfoto dengan sang bishounen (yang kemudian kembali dirubung oleh cewek-cewek lain).

Selesai foto bersama yang (terasa terlalu) singkat itu, saya kembali bekeliling bersama teman-teman. Tapi tentu saja, mata tetap dalam keadaan ‘Siaga 1’. Hingga akhirnya sudah tiba saat kami pulang. Dan, betapa beruntungnya, dia beserta teman-temannya, berjalan di depan kami!!

Dengan obsesi gila seorang stalker, saya mengikuti si bishounen sampai dia masuk ke mobil (yang sayangnya bukan milik dia, karena yang menyetir itu temannya 😥 huh. ) dan mencatat nomor polisinya. BENAR! Segila itulah saya jika sudah berniat. hahahahaha.

Apalagi selama 1/5 dari perjalanan Depok-Jakarta, mobil kami berjalan beriringan. Mobil yang saya dan teman-teman saya tumpangi penuh dengan jeritan-jeritan nyaring yang sangat fangirl-ish dan tidak sadar usia (kasihan supirnya). Dan supir teman saya itu (menyadari obsesi gila kami *ehm*saya*ehm*) melemparkan ucapan ringan bahwa pemilik mobil itu juga tinggal di daerah Jakarta Timur berhubung plat mobilnya B ****  T*. dan T pada bagian akhir itu menunjukkan Jakarta Timur. Wah, kami semua tidak bisa lebih kalap lagi. 🙂

Sesampainya di rumah, saya segera menggunakan segala cara (google, facebook, twitter) untuk mandapatkan jati diri sang bishounen. Mulai dari melihat seluruh friend facebook MC acara tadi, sampai melihat satu-satu orang yang menulis di wall fb GJUI. Walaupun sayang sekali hasilnya nada, nol, nihil. 😦

Tapi tidak apa-apa, saya masih punya plat nomer mobil yang ia tumpangi, bukan? khukhukhu.

Advertisements

About yuushigure

I love reading, writing, cooking, anime, manga, fanfiction, vocaloid, photography, good music and loads of other things. Know me better, let's be friends :) visit me at: http://flavors.me/yuushigure
This entry was posted in life in technicolor and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s